Sang Pemimpi dan Sang Pengkhayal

Suatu hari, di sebuah kota kecil hiduplah dua orang saudara kembar, yang satu bernama Sang Pemimpi dan yang satunya lagi bernama Sang Pengkhayal. Sepasang saudara tersebut hidup dengan akur semenjak masa kecilnya. Mereka sama-sama rajin belajar, senang berolahraga, mudah bergaul, dan memiliki cita-cita yang sama yaitu menjadi orang yang sukses.

Ketika beranjak dewasa, kedua saudara itu merantau ke ibu kota. Banyak aral rintangan tidak menghalangi mereka berdua ketika mengadu nasib di sana. Keduanya pun mulai merasakan hidup mapan. Akan tetapi, pada suatu ketika Sang Pemimpi berpikir untuk mencari peruntungan yang lebih baik. Ia begitu yakin bahwa masih ada kehidupan yang lebih baik. Ia lalu mengajak saudaranya untuk pergi ke negeri seberang, tetapi Sang Pengkhayal menolaknya karena sudah merasa nyaman dengan hidupnya sekarang.

Kedua saudara itu pun akhirnya berpisah. Jatuh bangun kembali dirasakan Sang Pemimpi untuk melancarkan usahanya, sementara Sang Pengkhayal hidup dengan nyaman di ibukota.

Pada suatu ketika, terjadi musibah pada Sang Pengkhayal. Barang dagangannya raib dicuri orang. Tidak banyak memang, tetapi ia merasa begitu putus asa. Impiannya menjadi orang sukses seperti ikut hilang dicuri. Ia tidak bisa menerima kegagalan, karena ia selalu membayangkan yang indah selama hidupnya yang mapan. Tanpa saudaranya, ia tidak dapat bangkit dari keterpurukannya. Ia menjadi seorang yang pemarah dan mudah menyalahkan orang lain. Orang-orang pun menjadi enggan membantu Sang Pengkhayal karena semua yang dicoba orang-orang selalu dianggap mengganggunya.

Sementara di negri seberang, Sang Pemimpi dengan keyakinannya yang tinggi berhasil mengatasi segala rintangan yang dihadapinya dan kini menjadi orang yang sukses dengan perusahaannya yang sudah mendunia. Ketika ditanya rahasia kesuksesannya dibandingkan dengan saudara kembarnya, ia hanya menjawab bahwa semenjak kecil ia selalu menang dalam perlombaan lari daripada Sang Pengkhayal.

“Dalam perlombaan lari, saya selalu menang dari saudara saya. Ketika latihan, saya merasa sangat tertekan karena saya selalu berpikir bahwa di belakang ada binatang buas yang siap menerkam saya. Tetapi saya merasa senang ketika berhasil memenangkan perlombaan. Sementara Sang Pengkhayal lebih senang membayangkan keberhasilan tersebut. Ia merasa senang pada saat latihan, sebelum perlombaan, dan pada saat perlombaan, tetapi ia merasa begitu hancur merasakan kekalahannya setelah perlombaan usai.”

Barber Shop

“Kuliah di mana?” tanya tukang cukur.

“Di ITB”

“Semester berapa?”

“Dah tingkat akhir.”

“Oh, bentar lagi lulus ya.”

Saya hanya tersenyum, karena dalam hati saya agak sesak juga karena saya baru bisa lulus tahun depan.

“Wah, rambutnya keras ya.. Kalo dipotong pendek pasti berdiri neh..”

“Haha.. Iya..”

Tiba-tiba datang seorang bapak yang juga mau dicukur. Karena belum jam 10, tukang cukurnya hanya  dia seorang.

“Sebentar lagi lulus yah?”

Mengulang pertanyaan memang sudah biasa bagi saya ketika bertemu dengan orang yang masih asing. Tapi karena yang ditanya agak menyesakkan, saya kembali hanya bisa tersenyum.

“Sekarang cari kerja susah,” saya coba mengalihkan pembicaraan sedikit.

“Iya, makanya sekarang harus jadi wiraswasta.”

Reaksi saya yang pertama jelas saja terkejut, mengetahui bahwa ternyata seorang tukang cukur dengan percaya dirinya berkata demikian. Reaksi kedua saya adalah menganggap bahwa tukang cukur ini sering membaca surat kabar.

“Iya, harus kreatif sekarang yah..” tandas saya.

Tukang cukur pun mengiyakan, sambil memotong bagian depan rambut saya pendek sekali. Setelah memotong lagi di beberapa sisi lain, dengan hebatnya dia berkata,

“Wah, ga berasa yah, (rambut saya) dah abis (pendek-red)..”

Alhasil, rambut saya yang awalnya berantakan menjadi sangat ‘rapi’. Memang potongan rambut seperti ini tidak akan membuat rugi, karena akan lama tumbuh dan lama juga saya akan kembali ke tukang cukur itu.

Uang sepuluh ribu pun saya keluarkan dari dompet saya. Ada sedikit perasaan dongkol karena hasilnya memang jauh dari harapan. Tapi saya tidak pernah menyesal dicukur di tempat ini, sekalipun saya bisa saja pergi ke salon dengan uang tiga puluh ribu dengan hasil yang memuaskan. Pulang dari barber shop tersebut di Tegallega, saya selalu merapikan lagi guntingannya, kadang-kadang sendiri, tetapi lebih sering oleh mama saya.

Sehari-hari saya suka kesal karena sifat mama yang suka berpikir negatif, walaupun memang kadang-kadang terbukti bahwa pikirannya itu benar. Satu lagi yang sering membuat saya dongkol adalah ketika mamah menjelaskan sesuatu, untuk mengerti sulitnya minta ampun. Tetapi, pada saat inilah saya bisa merasakan kasih sayangnya, merasakan tiap jengkal sentuhan yang lembut darinya. Mungkin inilah alasan mengapa saya tidak pernah menyesal dicukur di barber shop.

Jadi, pilih mana, barber shop atau salon?

Untukmu Terkasih

Hidup saya pada hari ini dimulai dengan mengerjakan tugas kuliah pukul 3 pagi. Tidak biasanya bisa bangun sepagi itu, tetapi udara yang sangat dingin membuat saya tersiksa dan akhirnya terpaksa bangun. Membuat sebuah artikel ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Dari pustaka yang katanya semakin banyak jumlahnya maka semakin bagus artikelnya, saya harus mengambil sari dari tiap kuncup artikel yang saya dapatkan. Di awalnya memang terlihat mudah, tetapi menyusun ulang serpihan-serpihan puzzle dari tiap artikel juga bergantung pada kreativitas kita. Nah, di sinilah bagian perfeksionis saya mulai berkuasa sementara tangan dan mata rasanya sudah tidak sanggup untuk melayani sang perfeksionis. Bagaimanapun, saya berusaha untuk optimis dengan beranggapan bahwa semakin stres pikiran saya berarti pekerjaan saya semakin dekat dengan kata TUNTAS. Cukup bagus untuk dijadikan quote.

Pada akhirnya, saya berhasil menuntaskan tugas tersebut lalu mencetaknya. Ketika saya berjalan menuju ruang kuliah untuk mengumpulkan artikel, saya melihat ada seonggok kertas lusuh berwarna merah di lantai. Ya, itu adalah uang sepuluh ribu rupiah. Saya yang mulai membiasakan diri untuk lebih cepat dalam mengambil kesempatan (sifat ini penting dalam sebuah bisnis), tidak ragu-ragu langsung menyambar foto rumah limas dan Sultan Mahmud Badaruddin II tersebut. Dari sinilah cerita menarik pada hari ini bermulai.

Alih-alih menyimpan uang tersebut untuk kepentingan sendiri, saya malah tiba-tiba terpikir untuk memberikannya pada orang lain. Selama hidup, saya sudah sering menemukan uang dan menyimpannya untuk kepentingan sendiri. Hasilnya, nihil. Uang yang ditemukan sudah lupa digunakan untuk apa. Bahkan tidak jarang saya malah mengalami kehilangan uang yang jumlahnya jauh lebih besar daripada jumlah yang saya temukan.

Pada awalnya, saya masih ragu-ragu pada keputusan saya tersebut, apalagi orang pertama yang terpikir oleh saya adalah teman yang pertama kali menyapa saya.

“Ngapain juga gua kasih ke dia ya?” pikir saya dalam hati.

Uang tersebut masih tersimpan di dalam saku celana saya. Orang kedua yang terpikir untuk saya berikan uangnya adalah tukang sapu di ITB.

“Ah, masih banyak yang lebih membutuhkan daripada dia.”

Ketika saya pulang ke rumah, saya putuskan untuk mengendarai motor dengan perlahan. Saya berharap untuk bisa mencari siapa yang pantas diberikan uang tersebut. Saya sempat sedikit terhenyak ketika melihat banyak sekali pengemis di jalanan yang setiap hari saya lewati ketika pulang kuliah. Saya baru menyadari, benar-benar menyadari bahwa ternyata sangat mudah menemukan orang yang hidup di sekitar garis kemiskinan. Pengemis cacat, anak-anak jalanan, pengamen, pengumpul barang bekas, bahkan pedagang baso cuanki menjadi perhatian saya sepanjang perjalanan pulang tadi.

Tetapi dari sekian banyak yang telah saya sebutkan, selalu saja ada alasan untuk tidak memberikan uang yang sudah dipindahkan ke saku jaket saya. Pengemis cacat tetaplah pengemis, yang jumlahnya pasti akan semakin banyak jika ada salah satu saja yang bisa hidup sejahtera dari hasil usaha menengadahkan tangannya. Pikiran ini juga mungkin dipengaruhi oleh peristiwa yang tak terlupakan, di mana saya melihat seorang pengemis dengan santainya ber-sms ria sementara topinya yang lusuh tergeletak menganga menunggu lemparan koin atau lembaran ribuan yang dilemparkan oleh pengemudi kendaraan. Anak-anak jalanan sama saja dengan pengemis, bahkan parahnya adalah kenyataan bahwa bukan mereka yang menikmati hasil kemisannya. Orang-orang dewasa yang sering duduk di pinggir jalan adalah mandornya yang mengawasi pekerjaaan anak-anak jalanan bawahannya. Para pengamen tak lain dan tak bukan adalah kumpulan pemuda usia produktif yang seharusnya bekerja tetapi malah asyik meminta imbalan dari hasil menyanyikan lagu sumbang.

Alhasil, uang tersebut tetap aman di dalam saku jaket saya padahal jarak ke rumah semakin dekat. Sempat terpikir untuk memberikan “bonus” kepada pedagang yang notabene telah bekerja keras untuk kehidupannya, tetapi lagi-lagi digagalkan oleh pertanyaan: dari mana mereka bisa mengenakan baju yang tergolong bagus itu?

“Akh, apa mungkin karena saya ini terlahir sebagai orang mampu, yang hanya bisa menerka-nerka dari kejauhan tanpa pernah merasakan kehidupan orang-orang miskin?”

Saya mulai kecewa dengan diri sendiri, karena gagal mengantarkan titipan ini kepada orang yang dituju. “Haduh, Tikong. Tolong dikasih petunjuk dong.”

Rumah tinggal 500 meter saja jauhnya, tetapi belum satu orang pun yang membuat saya tergerak untuk mengeluarkan uang tersebut dari saku jaket saya. Waktu terasa semakin cepat berlalu, tetapi tiba-tiba saya justru merasa terpanggil ketika melihat seorang bapak tua sedang berkebun di lahan sempit di pinggir kali. Motor masih saya biarkan melaju, walaupun saya sudah merasa bahwa dialah orangnya. Seperti mencari-cari alasan, saya berpikir bahwa saya tidak tahu-menahu tentang bapak tersebut.

“Siapa tau dia itu orang mampu yang sedang iseng berkebun di sana.”

Tetapi hanya butuh beberapa detik, dan …

“Oh, my God. Apa seh yang gua pikirin?”

Saya langsung memutar arah motor, mencoba meyakinkan diri lagi untuk mengantarkan titipan tersebut kepada bapak pekebun sekalipun pedagang odading berteriak menawarkan dagangannya.

“Bukan, bukan dia. Odading seh tinggal beli aja kalau mau bantuin pedagang.”

Saya pun menghampiri sang bapak pekebun yang juga menoleh kepada saya.

“Pak, ini buat Bapak. Saya nemu duit tadi,” kata saya.

“Duh, nuhun,” suara lemah dan parau terdengar dari mulut sang bapak pekebun.

“Dihemat, ya Pak!”, tidak lupa saya berpesan padanya agar uangnya tidak dihamburkan.

Sang bapak tersenyum, dan terang saja saya senang. Ucapan terima kasihnya, senyumnya, dan pancaran matanya yang tidak mungkin diungkapkan dengan kata-kata menjadi sumber perasaan senang ini. Sudah lama saya tidak merasakannya, ditambah lagi dengan rasa lega karena telah berhasil mengirimkan titipan Tikong ke tujuannya.

Dan setelahnya, saya pun teringat akan dinginnya udara tadi pagi. Berapa banyak orang yang masih tidur beratapkan langit beralaskan tanah, emperan jalan, atau tumpukan sampah? Betapa mereka terpaksa menikmati siksaan dinginnya udara pagi tadi.

(Terinspirasi juga oleh lagu “Untukmu Terkasih” oleh Iwan Fals)