Hidup saya pada hari ini dimulai dengan mengerjakan tugas kuliah pukul 3 pagi. Tidak biasanya bisa bangun sepagi itu, tetapi udara yang sangat dingin membuat saya tersiksa dan akhirnya terpaksa bangun. Membuat sebuah artikel ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Dari pustaka yang katanya semakin banyak jumlahnya maka semakin bagus artikelnya, saya harus mengambil sari dari tiap kuncup artikel yang saya dapatkan. Di awalnya memang terlihat mudah, tetapi menyusun ulang serpihan-serpihan puzzle dari tiap artikel juga bergantung pada kreativitas kita. Nah, di sinilah bagian perfeksionis saya mulai berkuasa sementara tangan dan mata rasanya sudah tidak sanggup untuk melayani sang perfeksionis. Bagaimanapun, saya berusaha untuk optimis dengan beranggapan bahwa semakin stres pikiran saya berarti pekerjaan saya semakin dekat dengan kata TUNTAS. Cukup bagus untuk dijadikan quote.
Pada akhirnya, saya berhasil menuntaskan tugas tersebut lalu mencetaknya. Ketika saya berjalan menuju ruang kuliah untuk mengumpulkan artikel, saya melihat ada seonggok kertas lusuh berwarna merah di lantai. Ya, itu adalah uang sepuluh ribu rupiah. Saya yang mulai membiasakan diri untuk lebih cepat dalam mengambil kesempatan (sifat ini penting dalam sebuah bisnis), tidak ragu-ragu langsung menyambar foto rumah limas dan Sultan Mahmud Badaruddin II tersebut. Dari sinilah cerita menarik pada hari ini bermulai.
Alih-alih menyimpan uang tersebut untuk kepentingan sendiri, saya malah tiba-tiba terpikir untuk memberikannya pada orang lain. Selama hidup, saya sudah sering menemukan uang dan menyimpannya untuk kepentingan sendiri. Hasilnya, nihil. Uang yang ditemukan sudah lupa digunakan untuk apa. Bahkan tidak jarang saya malah mengalami kehilangan uang yang jumlahnya jauh lebih besar daripada jumlah yang saya temukan.
Pada awalnya, saya masih ragu-ragu pada keputusan saya tersebut, apalagi orang pertama yang terpikir oleh saya adalah teman yang pertama kali menyapa saya.
“Ngapain juga gua kasih ke dia ya?” pikir saya dalam hati.
Uang tersebut masih tersimpan di dalam saku celana saya. Orang kedua yang terpikir untuk saya berikan uangnya adalah tukang sapu di ITB.
“Ah, masih banyak yang lebih membutuhkan daripada dia.”
Ketika saya pulang ke rumah, saya putuskan untuk mengendarai motor dengan perlahan. Saya berharap untuk bisa mencari siapa yang pantas diberikan uang tersebut. Saya sempat sedikit terhenyak ketika melihat banyak sekali pengemis di jalanan yang setiap hari saya lewati ketika pulang kuliah. Saya baru menyadari, benar-benar menyadari bahwa ternyata sangat mudah menemukan orang yang hidup di sekitar garis kemiskinan. Pengemis cacat, anak-anak jalanan, pengamen, pengumpul barang bekas, bahkan pedagang baso cuanki menjadi perhatian saya sepanjang perjalanan pulang tadi.
Tetapi dari sekian banyak yang telah saya sebutkan, selalu saja ada alasan untuk tidak memberikan uang yang sudah dipindahkan ke saku jaket saya. Pengemis cacat tetaplah pengemis, yang jumlahnya pasti akan semakin banyak jika ada salah satu saja yang bisa hidup sejahtera dari hasil usaha menengadahkan tangannya. Pikiran ini juga mungkin dipengaruhi oleh peristiwa yang tak terlupakan, di mana saya melihat seorang pengemis dengan santainya ber-sms ria sementara topinya yang lusuh tergeletak menganga menunggu lemparan koin atau lembaran ribuan yang dilemparkan oleh pengemudi kendaraan. Anak-anak jalanan sama saja dengan pengemis, bahkan parahnya adalah kenyataan bahwa bukan mereka yang menikmati hasil kemisannya. Orang-orang dewasa yang sering duduk di pinggir jalan adalah mandornya yang mengawasi pekerjaaan anak-anak jalanan bawahannya. Para pengamen tak lain dan tak bukan adalah kumpulan pemuda usia produktif yang seharusnya bekerja tetapi malah asyik meminta imbalan dari hasil menyanyikan lagu sumbang.
Alhasil, uang tersebut tetap aman di dalam saku jaket saya padahal jarak ke rumah semakin dekat. Sempat terpikir untuk memberikan “bonus” kepada pedagang yang notabene telah bekerja keras untuk kehidupannya, tetapi lagi-lagi digagalkan oleh pertanyaan: dari mana mereka bisa mengenakan baju yang tergolong bagus itu?
“Akh, apa mungkin karena saya ini terlahir sebagai orang mampu, yang hanya bisa menerka-nerka dari kejauhan tanpa pernah merasakan kehidupan orang-orang miskin?”
Saya mulai kecewa dengan diri sendiri, karena gagal mengantarkan titipan ini kepada orang yang dituju. “Haduh, Tikong. Tolong dikasih petunjuk dong.”
Rumah tinggal 500 meter saja jauhnya, tetapi belum satu orang pun yang membuat saya tergerak untuk mengeluarkan uang tersebut dari saku jaket saya. Waktu terasa semakin cepat berlalu, tetapi tiba-tiba saya justru merasa terpanggil ketika melihat seorang bapak tua sedang berkebun di lahan sempit di pinggir kali. Motor masih saya biarkan melaju, walaupun saya sudah merasa bahwa dialah orangnya. Seperti mencari-cari alasan, saya berpikir bahwa saya tidak tahu-menahu tentang bapak tersebut.
“Siapa tau dia itu orang mampu yang sedang iseng berkebun di sana.”
Tetapi hanya butuh beberapa detik, dan …
“Oh, my God. Apa seh yang gua pikirin?”
Saya langsung memutar arah motor, mencoba meyakinkan diri lagi untuk mengantarkan titipan tersebut kepada bapak pekebun sekalipun pedagang odading berteriak menawarkan dagangannya.
“Bukan, bukan dia. Odading seh tinggal beli aja kalau mau bantuin pedagang.”
Saya pun menghampiri sang bapak pekebun yang juga menoleh kepada saya.
“Pak, ini buat Bapak. Saya nemu duit tadi,” kata saya.
“Duh, nuhun,” suara lemah dan parau terdengar dari mulut sang bapak pekebun.
“Dihemat, ya Pak!”, tidak lupa saya berpesan padanya agar uangnya tidak dihamburkan.
Sang bapak tersenyum, dan terang saja saya senang. Ucapan terima kasihnya, senyumnya, dan pancaran matanya yang tidak mungkin diungkapkan dengan kata-kata menjadi sumber perasaan senang ini. Sudah lama saya tidak merasakannya, ditambah lagi dengan rasa lega karena telah berhasil mengirimkan titipan Tikong ke tujuannya.
Dan setelahnya, saya pun teringat akan dinginnya udara tadi pagi. Berapa banyak orang yang masih tidur beratapkan langit beralaskan tanah, emperan jalan, atau tumpukan sampah? Betapa mereka terpaksa menikmati siksaan dinginnya udara pagi tadi.
(Terinspirasi juga oleh lagu “Untukmu Terkasih” oleh Iwan Fals)