Helpful or stupid?

Gara-gara baca blog ini yang judulnya sengaja saya bikin mirip, saya jadi teringat kejadian aneh sekitar 2 tahun lalu.

Di suatu malam yang gelap (pastinya) dan hujan gerimis yang mulai mereda, saya akhirnya memutuskan untuk pulang selepas les Mandarin di Rong Hua, Jalan Kebon Jati. Tidak ada perasaan apapun selama perjalanan, hingga saya melewati Lingkar Selatan (saya lupa Jl. BKR atau Jl. Peta).

Saya melihat ada mobil tua yang mogok di pinggir jalan yang seringnya gelap gulita. Sayangnya mobil itu mogok di pinggir jalan sebelah kanan, yang artinya Lingkar Selatan yang awalnya terdiri dari dua jalur menjadi satu jalur. Untung saja saya tidak menabrak mobil itu.

Timbul perasaan untuk menolong orang-orang yang ada di mobil itu, sambil saya tetap melaju dengan kendaraan motor saya. Maklum, waktu itu saya masih sering plin-plan sehingga sulit sekali untuk memutuskan salah satu antara perasaan untuk menolong dan perasaan untuk cepat-cepat pulang. Tetapi akhirnya saya memutuskan untuk memutar di persimpangan berikutnya.

“Ah, sekali-kali tolong orang,” pikir saya.

Setelah memutar, saya parkir motor saya di pinggir jalan (sebelah kiri) yang susahnya setengah mati gara-gara air yang seharusnya mengalir di selokan malah mengalir di sana (makin kesal aja sama Pemkot). Saya lalu bilang ke pengemudi mobil mogok itu supaya mobilnya dipinggirkan.

“Pak, mobilnya gak mau dikepinggirin? Saya bantu dorong deh.”

“Ga usah deh, makasih,” jawab si bapak pengemudi yang membuat saya bingung.

“Ngehalangin jalan soalnya, Pak!”

“Ini udah di pinggir koq,” kata si bapak yang membuat saya tambah bingung dan kesal.

“….” (saya diam sejenak)

“Oh, ya dah. Ga apa-apa. Tadi saya liat bapak yang satu lagi mau beli bensin ya?”

“Iya, tapi ga apa-apa. Bapaknya udah lagi jalan koq.”

Saya yang sudah kagok mau menolong orang berpikir menolong orang tidak boleh setengah-setengah (setelah kejadian hari itu, saya baru sadar pemikiran di atas tidak selalu benar). Saya langsung naik motor dan menghampiri bapak yang sedang berjalan menuju pom bensin. Bapak itu berpikir pom bensin yang terdekat tidak terlalu jauh. Saya yakinkan bapak itu kalau pom bensinnya masih jauh. Akhirnya bapak itu mengalah dan mau diantar saya ke pom bensin.

Setelah saya mengantar bapak itu kembali ke mobilnya dan mengisi tangki bensinnya, mobilnya belum mau menyala. Dan akhirnya si pengemudi mau meminggirkan mobilnya ke sebelah kiri. Saya pun membantu mereka mendorong mobil mogok itu.

***

Ceritanya belum selesai sampai sini, karena ketika saya bersiap-siap pulang ada seorang pengemudi motor besar yang juga mogok.

“Mas, ada obeng ga? Kayaknya businya kebanjiran,” kata mas-mas pengemudi motor tersebut.

Bukannya kesal, saya malah merasa senang.

“Mungkin Tikong (panggilannya Tuhan bagi kepercayaan orang Cina yang berarti dewa langit) lagi ngasih petunjuk,” saya pikir dalam hati.

Saya pun dengan setia menunggu si pemuda mencoba memperbaiki motornya, bahkan saya sempat menawarkan bantuan kepadanya untuk mendorong motornya karena rumahnya di daerah Mohammad Toha juga.

***

Tiba-tiba, datang seorang wanita yang terburu-buru seperti dikejar hantu langsung bertanya ke si pemuda.

“Mas, tolong saya. Saya dikejar orang jahat neh,” kata perempuan itu.

“Ga bisa. Motor saya mogok,” jawab si pemuda sambil melihat ke arah saya.

Saya yang memang mudah panik langsung saja menyanggupi untuk mengantarnya ke kos-kosan terdekat. Saya yang ikut-ikutan panik sudah tidak bisa berpikir panjang bahkan ketika dia malah menyuruh saya supaya lebih cepat mempersiapkan motor saya dan meminjam jaket saya.

Si pemuda sempat bertanya, “Obengnya gimana?”

“Nanti saya balik lagi deh ke sini,” jawab saya.

Saya pun pergi bersama perempuan itu. Saya sudah mulai curiga waktu perempuan itu tiba-tiba bilang pada saya supaya ke masjid saja. Tetapi waktu saya mau belokkan motor saya ke masjid, dia tiba-tiba menyanggah pernyataannya sendiri.

“Jangan deh, Mas. Jangan.. Ke tempat laen aja..”

Dua kali dia melakukan hal itu sampai akhirnya di Jalan Buah Batu saya menyuruhnya turun.

“Saya ngerasa ditipu kalo gini. Mba ini mau ke mana seh sebenernya?! Turun aja deh,” ucap saya dengan nada tinggi.

Tetapi perempuan itu malah memelas dan berusaha meyakinkan saya bahwa memang ada rumah pamannya di daerah Burangrang. Saya pun melanjutkan perjalanan.

Dan seperti yang sebelum-sebelumnya, ketika saya mau membelokkan motor saya, perempuan itu kembali bilang, “Jangan ke sana!”

“Jangan????!!!! Jangan ndasmu!!” saya marah-marah dalam hati.

Saya pun langsung meminggirkan motor dan kembali menyuruhnya untuk turun. Kali ini dengan nada super tinggi dan suara keras sampai-sampai orang di sekitar melihat kebingungan.

Tapi ternyata perempuan itu ikut-ikutan marah.

“Ya udah. Saya juga ga butuh. Dasar orang gila!!” katanya sambil turun dari motor saya.

“A****, yang gila siapa seh?!” pikir saya.

Saya pun langsung pergi meninggalkannya tanpa ambil pusing lagi tentang apa yang dipikirkan orang-orang melihat kejadian itu. Tetapi sebelum saya pergi jauh, perempuan itu berteriak sambil melempar jaket saya yang ia pinjam. Saya tidak tahu harus senang karena jaket saya masih dikembalikan atau saya harus jijik dengan jaket saya itu. Tapi akhirnya saya bawa pulang juga.

Ketika saya kembali ke tempat para kendaraan mogok, untunglah mereka masih di sana. Dan si pemuda bertanya, “Tadi gimana?”

“Heuh.. Orang gila tuh kayanya,” jawab saya.

“Oh iya, tadi saya juga lihat dia kaya orang stres gitu. Pas nyebrang jalan juga dah ampir ketabrak tadi.”

………………..

Aaaaa… Kenapa tidak bilang dari tadi??!!!

3 Respon untuk Helpful or stupid?

  1. weh, ini agak beda ya sama kasus gw.. cuman yg ini lbh serem yaa.. semotor ama orang gila.. hahaa.. untung lu gak diapa2in.. hehee..

  2. haha..
    iya untungnya..
    emang beda, tapi sama-sama “helpful or stupid?”
    hehe…

  3. wii. teman SMA gue dan temen GB gue ketemu di blog. hehe.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s