Sang Pemimpi dan Sang Pengkhayal

Suatu hari, di sebuah kota kecil hiduplah dua orang saudara kembar, yang satu bernama Sang Pemimpi dan yang satunya lagi bernama Sang Pengkhayal. Sepasang saudara tersebut hidup dengan akur semenjak masa kecilnya. Mereka sama-sama rajin belajar, senang berolahraga, mudah bergaul, dan memiliki cita-cita yang sama yaitu menjadi orang yang sukses.

Ketika beranjak dewasa, kedua saudara itu merantau ke ibu kota. Banyak aral rintangan tidak menghalangi mereka berdua ketika mengadu nasib di sana. Keduanya pun mulai merasakan hidup mapan. Akan tetapi, pada suatu ketika Sang Pemimpi berpikir untuk mencari peruntungan yang lebih baik. Ia begitu yakin bahwa masih ada kehidupan yang lebih baik. Ia lalu mengajak saudaranya untuk pergi ke negeri seberang, tetapi Sang Pengkhayal menolaknya karena sudah merasa nyaman dengan hidupnya sekarang.

Kedua saudara itu pun akhirnya berpisah. Jatuh bangun kembali dirasakan Sang Pemimpi untuk melancarkan usahanya, sementara Sang Pengkhayal hidup dengan nyaman di ibukota.

Pada suatu ketika, terjadi musibah pada Sang Pengkhayal. Barang dagangannya raib dicuri orang. Tidak banyak memang, tetapi ia merasa begitu putus asa. Impiannya menjadi orang sukses seperti ikut hilang dicuri. Ia tidak bisa menerima kegagalan, karena ia selalu membayangkan yang indah selama hidupnya yang mapan. Tanpa saudaranya, ia tidak dapat bangkit dari keterpurukannya. Ia menjadi seorang yang pemarah dan mudah menyalahkan orang lain. Orang-orang pun menjadi enggan membantu Sang Pengkhayal karena semua yang dicoba orang-orang selalu dianggap mengganggunya.

Sementara di negri seberang, Sang Pemimpi dengan keyakinannya yang tinggi berhasil mengatasi segala rintangan yang dihadapinya dan kini menjadi orang yang sukses dengan perusahaannya yang sudah mendunia. Ketika ditanya rahasia kesuksesannya dibandingkan dengan saudara kembarnya, ia hanya menjawab bahwa semenjak kecil ia selalu menang dalam perlombaan lari daripada Sang Pengkhayal.

“Dalam perlombaan lari, saya selalu menang dari saudara saya. Ketika latihan, saya merasa sangat tertekan karena saya selalu berpikir bahwa di belakang ada binatang buas yang siap menerkam saya. Tetapi saya merasa senang ketika berhasil memenangkan perlombaan. Sementara Sang Pengkhayal lebih senang membayangkan keberhasilan tersebut. Ia merasa senang pada saat latihan, sebelum perlombaan, dan pada saat perlombaan, tetapi ia merasa begitu hancur merasakan kekalahannya setelah perlombaan usai.”

Barber Shop

“Kuliah di mana?” tanya tukang cukur.

“Di ITB”

“Semester berapa?”

“Dah tingkat akhir.”

“Oh, bentar lagi lulus ya.”

Saya hanya tersenyum, karena dalam hati saya agak sesak juga karena saya baru bisa lulus tahun depan.

“Wah, rambutnya keras ya.. Kalo dipotong pendek pasti berdiri neh..”

“Haha.. Iya..”

Tiba-tiba datang seorang bapak yang juga mau dicukur. Karena belum jam 10, tukang cukurnya hanya  dia seorang.

“Sebentar lagi lulus yah?”

Mengulang pertanyaan memang sudah biasa bagi saya ketika bertemu dengan orang yang masih asing. Tapi karena yang ditanya agak menyesakkan, saya kembali hanya bisa tersenyum.

“Sekarang cari kerja susah,” saya coba mengalihkan pembicaraan sedikit.

“Iya, makanya sekarang harus jadi wiraswasta.”

Reaksi saya yang pertama jelas saja terkejut, mengetahui bahwa ternyata seorang tukang cukur dengan percaya dirinya berkata demikian. Reaksi kedua saya adalah menganggap bahwa tukang cukur ini sering membaca surat kabar.

“Iya, harus kreatif sekarang yah..” tandas saya.

Tukang cukur pun mengiyakan, sambil memotong bagian depan rambut saya pendek sekali. Setelah memotong lagi di beberapa sisi lain, dengan hebatnya dia berkata,

“Wah, ga berasa yah, (rambut saya) dah abis (pendek-red)..”

Alhasil, rambut saya yang awalnya berantakan menjadi sangat ‘rapi’. Memang potongan rambut seperti ini tidak akan membuat rugi, karena akan lama tumbuh dan lama juga saya akan kembali ke tukang cukur itu.

Uang sepuluh ribu pun saya keluarkan dari dompet saya. Ada sedikit perasaan dongkol karena hasilnya memang jauh dari harapan. Tapi saya tidak pernah menyesal dicukur di tempat ini, sekalipun saya bisa saja pergi ke salon dengan uang tiga puluh ribu dengan hasil yang memuaskan. Pulang dari barber shop tersebut di Tegallega, saya selalu merapikan lagi guntingannya, kadang-kadang sendiri, tetapi lebih sering oleh mama saya.

Sehari-hari saya suka kesal karena sifat mama yang suka berpikir negatif, walaupun memang kadang-kadang terbukti bahwa pikirannya itu benar. Satu lagi yang sering membuat saya dongkol adalah ketika mamah menjelaskan sesuatu, untuk mengerti sulitnya minta ampun. Tetapi, pada saat inilah saya bisa merasakan kasih sayangnya, merasakan tiap jengkal sentuhan yang lembut darinya. Mungkin inilah alasan mengapa saya tidak pernah menyesal dicukur di barber shop.

Jadi, pilih mana, barber shop atau salon?

Untukmu Terkasih

Hidup saya pada hari ini dimulai dengan mengerjakan tugas kuliah pukul 3 pagi. Tidak biasanya bisa bangun sepagi itu, tetapi udara yang sangat dingin membuat saya tersiksa dan akhirnya terpaksa bangun. Membuat sebuah artikel ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Dari pustaka yang katanya semakin banyak jumlahnya maka semakin bagus artikelnya, saya harus mengambil sari dari tiap kuncup artikel yang saya dapatkan. Di awalnya memang terlihat mudah, tetapi menyusun ulang serpihan-serpihan puzzle dari tiap artikel juga bergantung pada kreativitas kita. Nah, di sinilah bagian perfeksionis saya mulai berkuasa sementara tangan dan mata rasanya sudah tidak sanggup untuk melayani sang perfeksionis. Bagaimanapun, saya berusaha untuk optimis dengan beranggapan bahwa semakin stres pikiran saya berarti pekerjaan saya semakin dekat dengan kata TUNTAS. Cukup bagus untuk dijadikan quote.

Pada akhirnya, saya berhasil menuntaskan tugas tersebut lalu mencetaknya. Ketika saya berjalan menuju ruang kuliah untuk mengumpulkan artikel, saya melihat ada seonggok kertas lusuh berwarna merah di lantai. Ya, itu adalah uang sepuluh ribu rupiah. Saya yang mulai membiasakan diri untuk lebih cepat dalam mengambil kesempatan (sifat ini penting dalam sebuah bisnis), tidak ragu-ragu langsung menyambar foto rumah limas dan Sultan Mahmud Badaruddin II tersebut. Dari sinilah cerita menarik pada hari ini bermulai.

Alih-alih menyimpan uang tersebut untuk kepentingan sendiri, saya malah tiba-tiba terpikir untuk memberikannya pada orang lain. Selama hidup, saya sudah sering menemukan uang dan menyimpannya untuk kepentingan sendiri. Hasilnya, nihil. Uang yang ditemukan sudah lupa digunakan untuk apa. Bahkan tidak jarang saya malah mengalami kehilangan uang yang jumlahnya jauh lebih besar daripada jumlah yang saya temukan.

Pada awalnya, saya masih ragu-ragu pada keputusan saya tersebut, apalagi orang pertama yang terpikir oleh saya adalah teman yang pertama kali menyapa saya.

“Ngapain juga gua kasih ke dia ya?” pikir saya dalam hati.

Uang tersebut masih tersimpan di dalam saku celana saya. Orang kedua yang terpikir untuk saya berikan uangnya adalah tukang sapu di ITB.

“Ah, masih banyak yang lebih membutuhkan daripada dia.”

Ketika saya pulang ke rumah, saya putuskan untuk mengendarai motor dengan perlahan. Saya berharap untuk bisa mencari siapa yang pantas diberikan uang tersebut. Saya sempat sedikit terhenyak ketika melihat banyak sekali pengemis di jalanan yang setiap hari saya lewati ketika pulang kuliah. Saya baru menyadari, benar-benar menyadari bahwa ternyata sangat mudah menemukan orang yang hidup di sekitar garis kemiskinan. Pengemis cacat, anak-anak jalanan, pengamen, pengumpul barang bekas, bahkan pedagang baso cuanki menjadi perhatian saya sepanjang perjalanan pulang tadi.

Tetapi dari sekian banyak yang telah saya sebutkan, selalu saja ada alasan untuk tidak memberikan uang yang sudah dipindahkan ke saku jaket saya. Pengemis cacat tetaplah pengemis, yang jumlahnya pasti akan semakin banyak jika ada salah satu saja yang bisa hidup sejahtera dari hasil usaha menengadahkan tangannya. Pikiran ini juga mungkin dipengaruhi oleh peristiwa yang tak terlupakan, di mana saya melihat seorang pengemis dengan santainya ber-sms ria sementara topinya yang lusuh tergeletak menganga menunggu lemparan koin atau lembaran ribuan yang dilemparkan oleh pengemudi kendaraan. Anak-anak jalanan sama saja dengan pengemis, bahkan parahnya adalah kenyataan bahwa bukan mereka yang menikmati hasil kemisannya. Orang-orang dewasa yang sering duduk di pinggir jalan adalah mandornya yang mengawasi pekerjaaan anak-anak jalanan bawahannya. Para pengamen tak lain dan tak bukan adalah kumpulan pemuda usia produktif yang seharusnya bekerja tetapi malah asyik meminta imbalan dari hasil menyanyikan lagu sumbang.

Alhasil, uang tersebut tetap aman di dalam saku jaket saya padahal jarak ke rumah semakin dekat. Sempat terpikir untuk memberikan “bonus” kepada pedagang yang notabene telah bekerja keras untuk kehidupannya, tetapi lagi-lagi digagalkan oleh pertanyaan: dari mana mereka bisa mengenakan baju yang tergolong bagus itu?

“Akh, apa mungkin karena saya ini terlahir sebagai orang mampu, yang hanya bisa menerka-nerka dari kejauhan tanpa pernah merasakan kehidupan orang-orang miskin?”

Saya mulai kecewa dengan diri sendiri, karena gagal mengantarkan titipan ini kepada orang yang dituju. “Haduh, Tikong. Tolong dikasih petunjuk dong.”

Rumah tinggal 500 meter saja jauhnya, tetapi belum satu orang pun yang membuat saya tergerak untuk mengeluarkan uang tersebut dari saku jaket saya. Waktu terasa semakin cepat berlalu, tetapi tiba-tiba saya justru merasa terpanggil ketika melihat seorang bapak tua sedang berkebun di lahan sempit di pinggir kali. Motor masih saya biarkan melaju, walaupun saya sudah merasa bahwa dialah orangnya. Seperti mencari-cari alasan, saya berpikir bahwa saya tidak tahu-menahu tentang bapak tersebut.

“Siapa tau dia itu orang mampu yang sedang iseng berkebun di sana.”

Tetapi hanya butuh beberapa detik, dan …

“Oh, my God. Apa seh yang gua pikirin?”

Saya langsung memutar arah motor, mencoba meyakinkan diri lagi untuk mengantarkan titipan tersebut kepada bapak pekebun sekalipun pedagang odading berteriak menawarkan dagangannya.

“Bukan, bukan dia. Odading seh tinggal beli aja kalau mau bantuin pedagang.”

Saya pun menghampiri sang bapak pekebun yang juga menoleh kepada saya.

“Pak, ini buat Bapak. Saya nemu duit tadi,” kata saya.

“Duh, nuhun,” suara lemah dan parau terdengar dari mulut sang bapak pekebun.

“Dihemat, ya Pak!”, tidak lupa saya berpesan padanya agar uangnya tidak dihamburkan.

Sang bapak tersenyum, dan terang saja saya senang. Ucapan terima kasihnya, senyumnya, dan pancaran matanya yang tidak mungkin diungkapkan dengan kata-kata menjadi sumber perasaan senang ini. Sudah lama saya tidak merasakannya, ditambah lagi dengan rasa lega karena telah berhasil mengirimkan titipan Tikong ke tujuannya.

Dan setelahnya, saya pun teringat akan dinginnya udara tadi pagi. Berapa banyak orang yang masih tidur beratapkan langit beralaskan tanah, emperan jalan, atau tumpukan sampah? Betapa mereka terpaksa menikmati siksaan dinginnya udara pagi tadi.

(Terinspirasi juga oleh lagu “Untukmu Terkasih” oleh Iwan Fals)

Helpful or stupid?

Gara-gara baca blog ini yang judulnya sengaja saya bikin mirip, saya jadi teringat kejadian aneh sekitar 2 tahun lalu.

Di suatu malam yang gelap (pastinya) dan hujan gerimis yang mulai mereda, saya akhirnya memutuskan untuk pulang selepas les Mandarin di Rong Hua, Jalan Kebon Jati. Tidak ada perasaan apapun selama perjalanan, hingga saya melewati Lingkar Selatan (saya lupa Jl. BKR atau Jl. Peta).

Saya melihat ada mobil tua yang mogok di pinggir jalan yang seringnya gelap gulita. Sayangnya mobil itu mogok di pinggir jalan sebelah kanan, yang artinya Lingkar Selatan yang awalnya terdiri dari dua jalur menjadi satu jalur. Untung saja saya tidak menabrak mobil itu.

Timbul perasaan untuk menolong orang-orang yang ada di mobil itu, sambil saya tetap melaju dengan kendaraan motor saya. Maklum, waktu itu saya masih sering plin-plan sehingga sulit sekali untuk memutuskan salah satu antara perasaan untuk menolong dan perasaan untuk cepat-cepat pulang. Tetapi akhirnya saya memutuskan untuk memutar di persimpangan berikutnya.

“Ah, sekali-kali tolong orang,” pikir saya.

Setelah memutar, saya parkir motor saya di pinggir jalan (sebelah kiri) yang susahnya setengah mati gara-gara air yang seharusnya mengalir di selokan malah mengalir di sana (makin kesal aja sama Pemkot). Saya lalu bilang ke pengemudi mobil mogok itu supaya mobilnya dipinggirkan.

“Pak, mobilnya gak mau dikepinggirin? Saya bantu dorong deh.”

“Ga usah deh, makasih,” jawab si bapak pengemudi yang membuat saya bingung.

“Ngehalangin jalan soalnya, Pak!”

“Ini udah di pinggir koq,” kata si bapak yang membuat saya tambah bingung dan kesal.

“….” (saya diam sejenak)

“Oh, ya dah. Ga apa-apa. Tadi saya liat bapak yang satu lagi mau beli bensin ya?”

“Iya, tapi ga apa-apa. Bapaknya udah lagi jalan koq.”

Saya yang sudah kagok mau menolong orang berpikir menolong orang tidak boleh setengah-setengah (setelah kejadian hari itu, saya baru sadar pemikiran di atas tidak selalu benar). Saya langsung naik motor dan menghampiri bapak yang sedang berjalan menuju pom bensin. Bapak itu berpikir pom bensin yang terdekat tidak terlalu jauh. Saya yakinkan bapak itu kalau pom bensinnya masih jauh. Akhirnya bapak itu mengalah dan mau diantar saya ke pom bensin.

Setelah saya mengantar bapak itu kembali ke mobilnya dan mengisi tangki bensinnya, mobilnya belum mau menyala. Dan akhirnya si pengemudi mau meminggirkan mobilnya ke sebelah kiri. Saya pun membantu mereka mendorong mobil mogok itu.

***

Ceritanya belum selesai sampai sini, karena ketika saya bersiap-siap pulang ada seorang pengemudi motor besar yang juga mogok.

“Mas, ada obeng ga? Kayaknya businya kebanjiran,” kata mas-mas pengemudi motor tersebut.

Bukannya kesal, saya malah merasa senang.

“Mungkin Tikong (panggilannya Tuhan bagi kepercayaan orang Cina yang berarti dewa langit) lagi ngasih petunjuk,” saya pikir dalam hati.

Saya pun dengan setia menunggu si pemuda mencoba memperbaiki motornya, bahkan saya sempat menawarkan bantuan kepadanya untuk mendorong motornya karena rumahnya di daerah Mohammad Toha juga.

***

Tiba-tiba, datang seorang wanita yang terburu-buru seperti dikejar hantu langsung bertanya ke si pemuda.

“Mas, tolong saya. Saya dikejar orang jahat neh,” kata perempuan itu.

“Ga bisa. Motor saya mogok,” jawab si pemuda sambil melihat ke arah saya.

Saya yang memang mudah panik langsung saja menyanggupi untuk mengantarnya ke kos-kosan terdekat. Saya yang ikut-ikutan panik sudah tidak bisa berpikir panjang bahkan ketika dia malah menyuruh saya supaya lebih cepat mempersiapkan motor saya dan meminjam jaket saya.

Si pemuda sempat bertanya, “Obengnya gimana?”

“Nanti saya balik lagi deh ke sini,” jawab saya.

Saya pun pergi bersama perempuan itu. Saya sudah mulai curiga waktu perempuan itu tiba-tiba bilang pada saya supaya ke masjid saja. Tetapi waktu saya mau belokkan motor saya ke masjid, dia tiba-tiba menyanggah pernyataannya sendiri.

“Jangan deh, Mas. Jangan.. Ke tempat laen aja..”

Dua kali dia melakukan hal itu sampai akhirnya di Jalan Buah Batu saya menyuruhnya turun.

“Saya ngerasa ditipu kalo gini. Mba ini mau ke mana seh sebenernya?! Turun aja deh,” ucap saya dengan nada tinggi.

Tetapi perempuan itu malah memelas dan berusaha meyakinkan saya bahwa memang ada rumah pamannya di daerah Burangrang. Saya pun melanjutkan perjalanan.

Dan seperti yang sebelum-sebelumnya, ketika saya mau membelokkan motor saya, perempuan itu kembali bilang, “Jangan ke sana!”

“Jangan????!!!! Jangan ndasmu!!” saya marah-marah dalam hati.

Saya pun langsung meminggirkan motor dan kembali menyuruhnya untuk turun. Kali ini dengan nada super tinggi dan suara keras sampai-sampai orang di sekitar melihat kebingungan.

Tapi ternyata perempuan itu ikut-ikutan marah.

“Ya udah. Saya juga ga butuh. Dasar orang gila!!” katanya sambil turun dari motor saya.

“A****, yang gila siapa seh?!” pikir saya.

Saya pun langsung pergi meninggalkannya tanpa ambil pusing lagi tentang apa yang dipikirkan orang-orang melihat kejadian itu. Tetapi sebelum saya pergi jauh, perempuan itu berteriak sambil melempar jaket saya yang ia pinjam. Saya tidak tahu harus senang karena jaket saya masih dikembalikan atau saya harus jijik dengan jaket saya itu. Tapi akhirnya saya bawa pulang juga.

Ketika saya kembali ke tempat para kendaraan mogok, untunglah mereka masih di sana. Dan si pemuda bertanya, “Tadi gimana?”

“Heuh.. Orang gila tuh kayanya,” jawab saya.

“Oh iya, tadi saya juga lihat dia kaya orang stres gitu. Pas nyebrang jalan juga dah ampir ketabrak tadi.”

………………..

Aaaaa… Kenapa tidak bilang dari tadi??!!!

Optimis atau Pesimis?

Temaram Senja

Kulihat matahari itu bersinar terang
sinari titik-titik hujan
lengkungkan pelangi berwarna-warni

Kutersenyum pada sang mentari
dan kukatakan
kaulah yang hangatkan hariku
kaulah yang perlihatkan padaku
indahnya seluruh isi bumi

Tapi mengapa
kau lalu terbenam di ujung dunia
dengarkah engkau akan cintaku
yang kualunkan bertalu-talu
agar kau mau melihatku
sekali saja

Aku berdiri di tepian senja
melihat dirimu tenggelam
bersama isi hidupku

Mungkin Ia hanya mengijinkanku
melihat gemerlap bintang
dalam malam yang kelam
di akhir hayatku

—————————————————————————————————————————

Berapa orang yang akan mengiyakan bait terakhir, dan berapa orang yang akan berani mengatakan “Tidak, kamu salah!”?

Puisi (kalau boleh disebut sebagai puisi) ini dibuat oleh saya tahun 2004. Dan baru 5 tahun kemudian, saya menyadari bahwa saya adalah orang yang pesimis. Cerita ibu saya tentang masa kecil saya yang tidak mudah menyerah, seakan-akan hilang hanya karena sebuah perasaan. Sebuah rasa pesimis yang jarang ditempatkan oleh seseorang pada tempat yang seharusnya.

Lalu apakah lantas saya harus jadi orang yang optimis?

“Jangan, tetap jadi pesimis aja. Buat apa susah-susah jadi orang optimis..”
Kalau begini jawabannya, baca tulisan di bawah ini:

An optimist laughs to forget. A pessimist forgets to laugh.
Always borrow money from a pessimist, he never expects to be paid back.
A pessimist is a man who looks both ways before crossing a one-way street.

“Saya harus berubah sekarang juga”
Kalau begini jawabannya, baca tulisan di bawah ini:

It doesn’t hurt to be optimistic, you can always cry later.
Optimists are nostalgic about the future.
An optimist is a guy who has never had much experience.

Kalau menurut Mr. Yahoo!Answers:

“Orang optimis adalah mereka yang melihat lampu hijau dimana-mana, sementara orang pesimis hanya melihat lampu merah. Orang yang sungguh-sungguh bijaksana adalah mereka yang buta warna.”
-Albert Schweitzer–
(Teolog, filsuf dan musisi Jerman, peraih nobel perdamaian ’52)

Nah, makanya kalau ditilang karena melanggar lampu merah, jawab aja:

“Maaf, Pak. Saya orang bijak, jadi saya buta warna. Bapak pasti orang pesimis ya..??”

Dies Emas ITB

Dies Natalis ITB kali ini memang beda dari acara-acara peringatan ulang tahun ITB lainnya. Selain karena perayaan kali ini adalah perayaan ke-50 (Dies Emas), acara-acaranya pun benar-benar berkesan. Salah satunya adalah seminar mengenai manajemen energi dan lingkungan.

Yang paling menarik dari seminar pagi ini adalah kehadiran Gubernur Gorontalo, Fadel Muhamad yang juga merupakan almuni ITB untuk menceritakan pengalamannya selama menjabat sebagai gubernur. Bukan karena keberhasilannya atau semangatnya dalam bercerita, tetapi cara pandangnya terhadap suatu masalah yang membuat saya kagum.

Ia menceritakan ketika pembangunan kantor gubernur hendak dilaksanakan, anak buahnya menunjukkan hamparan sawah yang luas.

Ia langsung bertanya, “Kenapa di sini?”

Anak buahnya hanya menjawab dengan alasan harga tanah yang murah.

“Salah cara kamu berpikir. Berapa uang yang telah dikeluarkan untuk membangun irigasi ini (sawah tersebut-red)?” kata Pak Fadel.

Anak buahnya pun hanya menjawab, “Oh begitu ya, Pak Gub?”

Cerita yang sangat sederhana, tapi saya sendiri pun langsung terhenyak (walaupun sambil tertawa). Mungkin kalau saya jadi anak buahnya waktu itu, saya akan melakukan hal yang sama.

“Bener juga ya..”, pikir saya.

GB(2): ORGANISASI

Organisasi, adalah suatu kata yang terdiri dari sepuluh huruf dan memiliki arti susunan atau badan, menurut kamus Bahasa Indonesia. Kata inilah yang paling saya ingat ketika pertama kali dilantik menjadi Ketua GBYC. Bagaimana caranya agar GBYC yang baru berdiri mandiri menjadi sebuah organisasi yang lebih mapan?

Anggota sudah ada, sekretariat terpaksa meminjam rumah orang tua saya, uang kas ada, dan masalah pun tentu saja ada. Mulai dari sulitnya mengajak (atau lebih tepatnya memaksa?) anggota aktif untuk mau menjadi pengurus sampai masalah “partitur yang sudah diberi tidak gampang dikembalikan” membuat saya harus melakukan beberapa perubahan.

Susunan kepengurusan selanjutnya mengalami beberapa perubahan yang akan saya ceritakan kemudian. Hierarki sengaja dibuat agak horizontal untuk menanamkan paham bahwa kita semua masih sama-sama harus banyak belajar sehingga komunikasi berjalan tidak kaku. Seksi dana dan usaha yang bermasalah di kepengurusan sebelumnya dihilangkan karena tidak ada yang merasa mampu mengisi jabatan ini. Konsekuensinya adalah pengeluaran yang harus lebih diperketat, salah satunya adalah dengan cara membuat slogan ke-partitur-an yang baru: “Diberikan berarti dipinjamkan (dan harus dikembalikan)”.

Ketika para pengurus telah saya “ajak” untuk mau bertanggung jawab atas bidangnya masing-masing, agenda saya selanjutnya mengenai organisasi adalah adanya steering commitee. Tujuannya adalah menampung aspirasi anggota dan memastikan kepengurusan berjalan sesuai dengan fungsinya. Maksud baik ini sayangnya tidak lagi berarti gara-gara trauma dengan ketidakjelasan status steering commitee yang dahulu bernama “penasihat”.

AD/ART juga menjadi perhatian saya semenjak Sang Wakil Ketua dan Sang Mantan Sekretaris menyatakan perlunya perubahan pada AD/ART. Akan tetapi, mimpi ini kembali kandas di tengah jalan gara-gara saya bertanya,

“Emang perubahan AD/ART itu tugas pengurus yah?”

Sejak itu secara perlahan-lahan tapi pasti, semangat untuk mengubah AD/ART yang awalnya menggebu-gebu sekarang tinggal menjadi debu. Hal ini terjadi juga karena mengingat sulitnya mengadakan rapat anggota dengan segala persyaratannya yang harus diadakan untuk mengubah sebuah AD/ART.